02 Word Study Shalom Peace


Kata “damai” ada dalam
sebagian besar bahasa. Orang bisa bicara tentang
perjanjian damai atau masa perdamaian, yang berarti tidak adanya perang. Dalam Alkitab, kata damai bisa
berarti tidak adanya konflik, tetapi juga menunjuk pada hadirnya
sesuatu yang lebih baik sebagai gantinya. Dalam Perjanjian Lama, kata Ibrani
untuk “damai” adalah “Shalom”, dan dalam Perjanjian Baru,
kata Yunaninya adalah “Eirene”. Arti paling dasar dari kata shalom
adalah ‘lengkap’, atau ‘utuh’. Kata itu bisa merujuk pada sebuah batu yang memiliki bentuk utuh sempurna tanpa retakan. Itu juga bisa merujuk pada tembok
batu yang lengkap, tanpa celah dan tanpa ada bongkahan bata yang hilang. Shalom menggambarkan
sesuatu yang kompleks dengan banyak bagian yang
menyusun kelengkapan atau keutuhannya. Misalnya seperti Ayub, yang mengatakan
bahwa tendanya berada pada kondisi “shalom” karena ia menghitung kawanan ternaknya,
dan tidak ada seekor pun yang hilang. Karena itu, “Shalom” dapat menunjuk
pada kesejahteraan seseorang. Misalnya ketika Daud mengunjungi
saudara-saudaranya di medan perang, ia menanyakan tentang “shalom” mereka. Gagasan intinya ialah
bahwa hidup itu kompleks, penuh dengan kepingan relasi
dan situasi yang bergerak, dan saat kepingan itu keluar
dari jalurnya atau hilang, “shalom” kita runtuh. Hidup tidak lagi utuh,
dan perlu diperbaiki. Itulah arti dasar “shalom”
ketika dipakai sebagai kata kerja. Membawa “shalom” secara harfiah berarti melengkapi atau memperbaiki
(mengembalikan ke kondisi semula). Jadi, Salomo membawa “shalom” kepada Bait Suci yang belum selesai
tatkala ia menyelesaikannya. Atau, ketika ternak Anda
tidak sengaja merusak kebun tetangga, Anda membawa “shalom” kepada mereka
dengan membayar penuh atas kerugiannya. Anda mengambil apa yang hilang,
dan mengembalikannya menjadi utuh. Hal yang sama berlaku pada relasi manusia. Dalam Kitab Amsal, memperdamaikan
dan memulihkan relasi yang rusak sama dengan membawa “shalom”. Dalam Alkitab, ketika dua kerajaan
yang bermusuhan membuat “shalom”, artinya mereka bukan
sekadar berhenti berperang, tetapi juga mulai bekerja sama
untuk saling memberi keuntungan. Keadaan “shalom” inilah yang seharusnya
diusahakan raja-raja Israel, dan itu jarang terjadi. Karena itu,
Nabi Yesaya menantikan Raja yang akan datang, seorang Raja Damai, Raja Shalom. Pemerintahan-Nya akan membawa
“shalom” yang tak berkesudahan– suatu masa ketika Allah mengadakan
perjanjian damai dengan umat-Nya dan memperbaiki semua kesalahan
serta memulihkan semua yang telah rusak. Inilah sebabnya, kelahiran Yesus
dalam Perjanjian Baru diumumkan sebagai datangnya “eirene”, kata Yunani yang berarti damai. Yesus datang untuk menawarkan
damai-Nya kepada orang banyak, seperti saat Ia berkata
kepada murid-murid-Nya, “Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu”. Para rasul menyatakan bahwa
Yesus memperdamaikan umat manusia yang berantakan dengan Allah saat Ia mati dan bangkit. Gagasan intinya ialah bahwa Ia memulihkan relasi yang rusak antara manusia
dengan Pencipta menjadi utuh kembali. Inilah sebabnya, Rasul Paulus berkata bahwa Yesus sendiri adalah
eirene (damai) kita. Dialah manusia yang utuh sepenuhnya, yang seperti itulah saya seharusnya,
tetapi saya gagal. Namun, kini Ia memberikan
hidup-Nya kepada saya sebagai karunia. Artinya, pengikut Yesus sekarang dipanggil
untuk menciptakan damai. Paulus mengajar gereja-gereja lokal untuk menjaga kesatuan mereka dalam damai melalui kerendahan hati, kesabaran,
dan saling menanggung beban dalam kasih. Menjadi umat yang damai berarti turut serta dalam kehidupan Yesus untuk memperdamaikan segala sesuatu
di surga dan di bumi, dan memulihkan damai melalui
kematian dan kebangkitan-Nya. Jadi, kedamaian memerlukan kerja keras karena damai bukan sekadar
tidak adanya konflik. Damai yang sejati berarti memulihkan
yang rusak menjadi utuh kembali, baik dalam kehidupan, relasi, maupun dunia kita. Itulah konsep alkitab yang kaya mengenai damai.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *